PERSELINGKUHAN di luar maupun di dalam lingkungan rumah sampai terjadi hubungan seksual, menunjukkan sangat lemahnya kontrol diri si pelaku. "Jika dikaitkan langsung dengan aspek psikologis, sang pelaku mengikuti sekali keinginan libidonya. Kalau jumlah yang melakukan ini banyak, mau seperti apa bangsa kita ini?" ucap prihatin Prof. Dr. Tb. Zulriska Iskandar, S.Psi, M.Sc.

Kontrol diri yang lemah ini, selain merusak orang juga merusak diri si pelaku sendiri. Dalam diri yang bersangkutan tidak ada suatu proses pengolahan diri dengan cara mencoba mengontrol dirinya. Manusia yang tidak bisa menahan dirinya atau kalah oleh dorongan-dorongan yang ada pada dirinya, bukan manusia dewasa. "Pelaku semacam ini sebenarnya bisa dimasukkan kategori anak-anak. Anak-anak jika menginginkan sesuatu harus tercapai," nilai Dekan Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung ini.

Beberapa pria dengan kasus perselingkuhan yang terungkap umumnya mengaku melakukannya karena ada kebutuhan yang tak diperolehnya dari istrinya. Kebutuhan tersebut mulai dari rasa nyaman hingga masalah hubungan intim suami istri.

Mengutip Teori Maslow, Zulriska menggambarkan bahwa seks memang merupakan kebutuhan manusia yang paling dasar. Selain merupakan kebutuhan biologis, seks juga merupakan kebutuhan fisiologis. "Artinya jika ini tidak dilakukan di antara suami istri berarti ada variabel lain yang terkait, misalnya interaksi antara suami dan istri ada masalah. Namun kalaupun ada masalah yang terjadi atau gangguan terjadi dalam interaksi suami istri ini, masa harus hal itu (berselingkuh) sebagai jalan keluarnya " kata Zulriska.

Alasan tak menemui apa yang dicarinya pada sang istri, dalam pandangan Zulriska sebenarnya adalah reaksi pertahanan diri pria.

"Penyebab pastinya adalah pelaku tidak mengalami perkembangan psikologis menuju manusia dewasa," tegas Zulriska.

Dewasa tidaknya seseorang bukan ditentukan faktor umur. Orang bisa dikatakan matang apabila dia mampu mengolah seluruh dorongan yang muncul dengan mempertimbangan berbagai nilai yang ada di masyarakat seperti hukum, norma, agama, dan lainnya.

Jika seseorang sudah berada pada tahap yang lebih tinggi dari sekadar memenuhi kebutuhan dasarnya, hidupnya tidak akan lagi didominasi hal-hal yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar tersebut. Ia akan berpikir bagaimana cara untuk lebih mengembangkan kemampuan diri. Ia juga mencoba agar dirinya bisa diterima oleh lingkungan masyakarat yang lebih luas.

"Lalu bagaimana caranya kita sampai ke tahap yang lebih tinggi ini? Jawabnya hanya satu, berkarya. Berkarya bisa dalam berbagai bentuk kegiatan, terutama berkarya sebaik-baiknya dalam pekerjaan kita. Apa pun jenisnya," tegas Zulriska.

Dengan bekerja maksimal, tak akan ada tempat untuk memikirkan hal-hal lain seperti dorongan untuk berselingkuh. "Jika suami maupun istri sudah matang dan dewasa, seks bukan segala-galanya lagi. Kalau orang sudah sampai ke tahap berkarya dan bisa mengaktualisasikan dirinya, hal ini membuat dirinya lebih puas. Analoginya begini, jika seseorang sadar tentang kesehatan, makan bukan segala-galanya lagi. Begitu juga hubungan seksual," jelas Zulriska.

dikutip dari http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0905/25/hikmah/utama03.htm